Senin, 16 Januari 2012

Ciri-ciri Manusia Indonesia


Ciri Kesatu
Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRITIS alias MUNAFIK. Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
Ciri Kedua
Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. “Bukan saya” adalah kalimat yang cukup populer pula di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kesalahan, sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak baik, satu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.
Ciri Ketiga
Ciri ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan; dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya, jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi istri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan istri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Istri komandan, istri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasarkan kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya, atau perhatian dan pengabdiannya.
Ciri Keempat
Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhyul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Untuk menyenangkan mereka agar jangan memusuhi manusia, mereka dipuja, diberi sesajen, kuburan disiram air dan kembang, ditutupi dengan kain kuning, putih, merah, orang membaca doa dan mengantar upeti atau sesajen minta berkah.
Ciri Kelima
Ciri kelima utama Indonesia adalah artistik. Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan persaan, dengan perasaan-perasaan sensual, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang benar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinya, warna-warnanya.
Ciri Keenam
Ciri keenam manusia Indonesia punya watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi dipaksa, dan demi untuk “Survive”  bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacur intelektual amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia. Ia terjadi bukan saja semasa Soekarno bergila-gila dan menubangkan segala prinsip-prinsip ilmiah demi “revolusi Soekarno”, tetapi juga sudah di zaman Jepang.
Ciri Lainnya
Baiklah saya mulai dahulu dengan ciri-ciri yang buruk. Manusia Indonesia sekarang itu tidak hemat “economic animal” . Malahan dia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak pernah akan diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf,  singkatnya segala apa yang serba mahal.
Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau dipaksa. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “millioner seketika”, seperti orang Amerika instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana, sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat dan jadi priyayi, jadi pegawai negeri adalah menjadi idaman utama, karena pangkat demikian merupakan lambang status yang tertinggi. Orang menjadi pegawai negeri bukan karena didorong rasa hendak mengabdi pada rakyat banyak. Bukan untuk memajukan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berikan Komentar Anda Terhadap Blog Saya Ini Yang Bersifat Membangun. Terimakasih.